nich hasilnya...
...Lain padang lain ilalang.. Setiap kaki melangkah kesetiap sudut bumi...selalu ada yang berkesan, memberi warna dalam kehidupan dan itu tak pernah tergantikan serasa hidup menjadi lebih hidup...
....welcome to the junggle...
Selasa, 24 Agustus 2010
Berburu Senja di Jembatan Baturusa
...mengejar matahari yang menghilang di langit barat alias SUNSET, seneng rasanya liat hasil2 bidikan temen2 fotografer yang profesional, walau blom sebagus hasil bidikan mereka ...hmmm...sedikit puas dengan bidikan amatiran dari Nikon D40 ku...
nich hasilnya...



nich hasilnya...
Senin, 23 Agustus 2010
...Rumput tetangga yang Hijau...

..kalo kerjaan dah pada beres, kantor sepi dan mata udah rada kriyip2 biasanya bakal tercetus banyak obrolan ngalor ngidul yang ujung-ujungnya jadi curhat hehehe...
wajarrrlah setiap manusia punya masalah hidup yang beda-beda ga' ada salahnya sharing yang kadang-kadang bisa memberi masukan buat menyelesaikan urusan kita daripada kerutan di muka lebih cepet datang dan ujung-ujungnya hasil kerja keras berakhir di kasir salon terdekat, mending curhat..
mungkin ajang rumpi ini sedikit banyak ada yang iri dengan post saya ini,
"enaknya bisa ngerumpi ya, padahal saya tiap hari tak ada waktu luang walau hanya buat makan, andai kerjaan saya kayak kalian" (diperankan oleh pemeran pembantu)...
hayahhh..may be dalam hidup ini rasa iri hati sama sesuatu yang kita lihat, kita dengan, kita perhatikan terhadap kesenangan dan kebahagiaan yang dimiliki orang lain itu acapkali terjadi...
bang bram teman kantor bilang "Rumput tetangga sering kelihatan lebih hijau" (langsung dikutip dari yang bersangkutan)
yachhh....ini bukan karena kita seperti sapi yang malas hingga bicara masalah rumput, maksudnya adalah bahwa sering kali rasa tidak bersyukur kita akan pekerjaan atau yang kita miliki bukannya memotivasi diri untuk berusaha lebih keras tapi malah mengeluh tiada henti dan meratapi apa yang tidak kita miliki. ujung-ujungnya terjadilah penurunan kinerja n' kualitas hidup kita (kerjaan jelek berarti dompet nambah tipissssss cuy xixiixixi). nah gimana caranya agar kita memikirkan cara membuat rumput kita sama hijau atau lebih hijau dari rumput tetangga yang sudah lebih hijau itu bukannya mikirkan cara menjajah rumputnya tetangga. ribetttttttt amat kata-katanya ya.. >,<..caranya ya cuman satu IKHLASSS!!!
yups...bersyukur atas apa yang kita miliki membuat rasa penghargaan terhadap kepunyaan kita lebih tinggi, setiap hal memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri, meminimalisir kekurangan dan mengoptimalkan kelebihan kita lah yang ng mesti kita tekan dalam diri kita. jadi ga' ada acara untuk iri pada rumput tetangga yang hijau yang ternyata rumput kita yang tidak hijau mungkin malah lebih subur. ya karena mata kita tertutup oleh rumput hijau tetangga kita jadi tidak melihat rumput gajah yang kita tanam.
intinya rasa bersyukur itu akan mengundang rasa bersyukur lainnya yang akan datang menghampiri kita.
Bunga Bangkai yang tumbuh di Pulau Bangka..Ups..ternyata Rafflesia Alnordii ama Bunga Bangkai tuch Beda ya...
Pangkalpinang- Rafflesia Arnoldi atau lebih dikenal sebagai Bunga Bangkai, setau saya bunga ini mulai terkenal di bengkulu ya...ini info yang saya dapat dari salah satu web mengenai tumbuhan ini
"Tumbuhan ini endemik di Pulau Sumatera, terutama bagian selatan (Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan). Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan daerah konservasi utama spesies ini.Merupakan tumbuhan parasit obligat yang terkenal karena memiliki bunga berukuran sangat besar, bahkan merupakan bunga terbesar di dunia. Ia tumbuh di jaringan tumbuhan merambat (liana) Tetrastigma dan tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesis."(http://koranbaru.com/perbedaan-bunga-bangkai-dan-bunga-raflesia-arnoldi/)..
makanya kaget saat ayah saya memamerkan hasil jepretannya..(wawwwwwwww...!!!) ga' nyangka kalo bunga ini ternyata tumbuh juga di Prov. Bangka Belitung, flora yang cantik satu ini memiliki bentuk yang indah, yaikk..walau baunya itu kadang mengganggu aktivitas memandangnya...si cantik yang bau ini hanya mekar selama 1 minggu didepan rumah..agak kecewa juga karena saya hanya bisa melihat fotonya...semoga lain kali berbunga lagi...
dan ternyata bunga bangkai itu beda lhoo sama rafflesia alnoldii..hii..saya baru tau...^^
Bunga Bangkai
Disebut juga suweg raksasa atau batang krebuit (nama lokal untuk fase vegetatif), Amorphophallus titanum Becc., merupakan tumbuhan dari suku talas-talasan (Araceae) endemik dari Sumatera, Indonesia, yang dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga (majemuk) terbesar di dunia, meskipun catatan menyebutkan bahwa kerabatnya, A. gigas (juga endemik dari Sumatera) dapat menghasilkan bunga setinggi 5m.Namanya berasal dari bunganya yang mengeluarkan bau seperti bangkai yang membusuk, yang dimaksudkan sebenarnya untuk mengundang kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya. Di alam tumbuhan ini hidup di daerah hutan hujan basah. Bunga bangkai adalah bunga resmi bagi Provinsi Bengkulu.
Tumbuhan ini memiliki dua fase dalam kehidupannya yang muncul secara bergantian, fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif muncul daun dan batang semunya. Tingginya dapat mencapai 6m. Setelah beberapa waktu (tahun), organ vegetatif ini layu dan umbinya dorman.
Apabila cadangan makanan di umbi mencukupi dan lingkungan mendukung, bunga majemuknya akan muncul. Apabila cadangan makanan kurang tumbuh kembali daunnya.
Bunganya sangat besar dan tinggi, berbentuk seperti lingga (sebenarnya adalah tongkol atau spadix) yang dikelilingi oleh seludang bunga yang juga berukuran besar. Bunganya berumah satu dan protogini: bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri.
(lagi-lagi dari www.koranbaru.com)..
biarlah beda nama yang pasti bunga ini tetep cantik dimata saya..semoga juga sama dimata anad...
Jumat, 21 Mei 2010
Tradisi Sedekah Laut Suku Sawang Di Bangka Selatan
Sabtu, 27 Maret 2010 00:00
Jakarta, VOI Fitur - Suku Sawang merupakan salah satu kelompok masyarakat yang hidup dan menetap di desa Kumbung dan desa Tanjung Sangkar, kecamatan Lepar Pongok, Bangka Selatan. Sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai nelayan. Turun temurun, semua kebutuhan hidup
mereka tergantung dari hasil laut. Bagi mereka, laut memiliki arti yang sangat penting. Begitu pentingnya arti laut, mereka selalu memberikan persembahan kepada laut. Suku Sawang memiliki cara tersendiri untuk menentukan kapan tradisi persembahan kepada laut dilaksanakan.
Setiap tahun, tradisi ini dilaksanakan ketika mereka mengganggap alam telah mengalami perubahan, seperti angin laut berhembus kencang dan air laut menjadi pasang. Ketika gejala alam itu terjadi, suku Sawang mulai mempersiapkan segala kebutuhan tradisi, seperti memasak makanan dan aneka kue, serta menyiapkan persembahan hasil bumi berupa beras, gula, kopi, dan mie instan. Setelah mempersiapkan aneka macam persembahan, mereka membuat perahu layar yang terbuat dari kayu pohon jeruk antu.
Kayu pohon itu diambil dari pulau Ibul yang terletak di seberang laut desa Kumbung. Untuk mengambil kayu pohon itu, mereka harus berlayar mengarungi laut dari desa Kumbung, kecamatan Lepar Pongok. Oleh suku Sawang, pulau Ibul diyakini sebagai tempat tinggal leluhur pertama suku Sawang. Setelah perahu itu berhasil dibuat dan dihias sedemikian rupa hingga tampak menarik, barulah aneka persembahan yang telah disiapkan sebelumnya itu diletakkan di atas perahu.
Keesokan harinya dan ketika hari tradisi telah tiba, semua suku Sawang dilarang untuk pergi berlayar dan bekerja di laut. Seperti tahun sebelumnya, tradisi sedekah laut selalu dilaksanakan di tepi pantai Kumbung Ujung Gusung, Bangka Selatan. Rangkaian acara tradisi diawali dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh tetua adat suku Sawang. Setelah berdoa, acara dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian tradisional suku Sawang yakni Tunjang Angin.
Di Bangka Selatan, setiap kali tradisi sedekah laut dilaksanakan, pertunjukan Tunjang Angin selalu dimainkan. Daya tarik pertunjukan ini yakni seorang lelaki Sawang yang memperlihatkan keahlian berdiri di atas dua buah tiang kayu. Bukan hanya sekedar berdiri diatas tiang, ia-pun menari mengikuti alunan gendang yang dimainkannya sendiri selama beberapa menit. Semnatara ketinggian kayu itu mencapai lebih kurang 5 meter dari permukaan tanah.
Karena atraksi ini relatif berbahaya, hanya lelaki pilihan ketua adat suku Sawang-lah yang boleh menjadi pemain Tunjang Angin. Setelah permainan Tunjang Angin berakhir, acara dilanjutkan dengan pertunjukan tari Gajah Manunggang yang menggambarkan sukacita suku Sawang atas keberkahan hasil laut. Selama pertunjukan berlangsung, tarian ini dominan dengan gerakan seolah mengayuh dayung perahu. Melalui gerakan itu, suku Sawang menunjukkan, sejak dulu hingga kini suku Sawang berprofesi sebagai nelayan.
Sesaat setelah acara pertunjukan itu berakhir, para tetua adat mulai melaksanakan acara inti yakni larung sesaji atau dalam bahasa tradisional suku Sawang disebut Buang Jung. Sambil diiringi pembacan doa, perahu kayu berisikan aneka makanan yang telah disiapkan sebelumnya itu dibawa ke tepian laut dan dilarung. Meskipun perahu itu mulai terbawa ombak hingga ke tengah laut, semua warga Sawang masih tetap berdiri di tepi pantai sambil memanjatkan doa kepada Sang Pencipta.
Bagi mereka, ritual Buang Jung ini menjadi ungkapan terima kasih kepada laut dan Sang Pencipta atas hasil laut yang telah diperoleh. Mereka berharap, melalui sesaji itu, laut dapat menjaga para nelayan suku Sawang dari segala macam bencana ketika berlayar di laut. Ketika perahu sesaji itu berlayar semakin jauh terbawa ombak dan tidak lagi terlihat dari tepian pantai, barulah suku Sawang kembali ke rumah dan melanjutkan aktifitas keseharian mereka. Ari-Ike/LPP RRI
Ekowisata..
Apa yang disebut dengan ekowisata atau sering juga ditulis atau disebut dengan ekoturisme, wisata ekologi, ecotoursism, eco-tourism, eco tourism, eco tour, eco-tour dsb?
Rumusan 'ecotourism' sebenarnya sudah ada sejak 1987 yang dikemukakan oleh Hector Ceballos-Lascurain yaitu sbb:
"Nature or ecotourism can be defined as tourism that consist in travelling to relatively undisturbed or uncontaminated natural areas with the specific objectives of studying, admiring, and enjoying the scenery and its wild plantas and animals, as well as any existing cultural manifestations (both past and present) found in the areas."
"Wisata alam atau pariwisata ekologis adalah perjalanan ketempat-tempat alami yang relatif masih belum terganggu atau terkontaminasi (tercemari) dengan tujuan untuk mempelajari, mengagumi dan menikmati pemandangan, tumbuh-tumbuhan dan satwa liar, serta bentuk-bentuk manifestasi budaya masyarakat yang ada, baik dari masa lampau maupun masa kini."
Rumusan di atas hanyalah penggambaran tentan kegiatan wisata alam biasa. Rumusan ini kemudian disempurnakan oleh The International Ecotourism Society (TIES) pada awal tahun 1990 yaitu sebagai berikut:
"Ecotourism is responsible travel to natural areas which conserved the environment and improves the welfare of local people."
"Ekowisata adalah perjalanan yang bertanggung jawab ketempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahtraan penduduk setempat”.
Definisi ini sebenarnya hampir sama dengan yang diberikan oleh Hector Ceballos-Lascurain yaitu sama-sama menggambarkan kegiatan wisata di alam terbuka, hanya saja menurut TIES dalam kegiatan ekowisata terkandung unsur-unsur kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahtraan penduduk setempat. Ekowisata merupakan upaya untuk memaksimalkan dan sekaligus melestarikan pontensi sumber-sumber alam dan budaya untuk dijadikan sebagai sumber pendapatan yang berkesinambungan. Dengan kata lain ekowisata adalah kegiatan wisata alam plus plus. Definisi di atas telah telah diterima luas oleh para pelaku ekowisata.
Adanya unsur plus plus di atas yaitu kepudulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahtraan masyarakat setempat ditimbulkan oleh:
1. Kekuatiran akan makin rusaknya lingkungan oleh pembangunan yang bersifat eksploatatif terhadap sumber daya alam.
2. Asumsi bahwa pariwisata membutuhkan lingkungan yang baik dan sehat.
3. Kelestarian lingkungan tidak mungkin dijaga tanpa partisipasi aktif masyarakat setempat.
4. Partisipasi masyarakat lokal akan timbul jika mereka dapat memperoleh manfaat ekonomi ('economical benefit') dari lingkungan yang lestari.
5. Kehadiran wisatawan (khususnya ekowisatawan) ke tempat-tempat yang masih alami itu memberikan peluas bagi penduduk setempat untuk mendapatkan penghasilan alternatif dengan menjadi pemandu wisata, porter, membuka homestay, pondok ekowisata (ecolodge), warung dan usaha-usaha lain yang berkaitan dengan ekowisata, sehingga dapat meningkatkan kesejahtraan mereka atau meningkatkan kualitas hidpu penduduk lokal, baik secara materiil, spirituil, kulturil maupun intelektual.
Sedangkan pengertian Ekowisata Berbasis Komunitas (community-based ecotourism) merupakan usaha ekowisata yang dimiliki, dikelola dan diawasi oleh masyarakat setempat. Masyarakat berperan aktif dalam kegiatan pengembangan ekowisata dari mulai perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan ekowisata sebanyak mungkin dinikmati oleh masyarakat setempat. Jadi dalam hal ini masyarakat memiliki wewenang yang memadai untuk mengendalikan kegiatan ekowisata.
http://www.ekowisata.info/definisi_ekowisata.html
Rumusan 'ecotourism' sebenarnya sudah ada sejak 1987 yang dikemukakan oleh Hector Ceballos-Lascurain yaitu sbb:
"Nature or ecotourism can be defined as tourism that consist in travelling to relatively undisturbed or uncontaminated natural areas with the specific objectives of studying, admiring, and enjoying the scenery and its wild plantas and animals, as well as any existing cultural manifestations (both past and present) found in the areas."
"Wisata alam atau pariwisata ekologis adalah perjalanan ketempat-tempat alami yang relatif masih belum terganggu atau terkontaminasi (tercemari) dengan tujuan untuk mempelajari, mengagumi dan menikmati pemandangan, tumbuh-tumbuhan dan satwa liar, serta bentuk-bentuk manifestasi budaya masyarakat yang ada, baik dari masa lampau maupun masa kini."
Rumusan di atas hanyalah penggambaran tentan kegiatan wisata alam biasa. Rumusan ini kemudian disempurnakan oleh The International Ecotourism Society (TIES) pada awal tahun 1990 yaitu sebagai berikut:
"Ecotourism is responsible travel to natural areas which conserved the environment and improves the welfare of local people."
"Ekowisata adalah perjalanan yang bertanggung jawab ketempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahtraan penduduk setempat”.
Definisi ini sebenarnya hampir sama dengan yang diberikan oleh Hector Ceballos-Lascurain yaitu sama-sama menggambarkan kegiatan wisata di alam terbuka, hanya saja menurut TIES dalam kegiatan ekowisata terkandung unsur-unsur kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahtraan penduduk setempat. Ekowisata merupakan upaya untuk memaksimalkan dan sekaligus melestarikan pontensi sumber-sumber alam dan budaya untuk dijadikan sebagai sumber pendapatan yang berkesinambungan. Dengan kata lain ekowisata adalah kegiatan wisata alam plus plus. Definisi di atas telah telah diterima luas oleh para pelaku ekowisata.
Adanya unsur plus plus di atas yaitu kepudulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahtraan masyarakat setempat ditimbulkan oleh:
1. Kekuatiran akan makin rusaknya lingkungan oleh pembangunan yang bersifat eksploatatif terhadap sumber daya alam.
2. Asumsi bahwa pariwisata membutuhkan lingkungan yang baik dan sehat.
3. Kelestarian lingkungan tidak mungkin dijaga tanpa partisipasi aktif masyarakat setempat.
4. Partisipasi masyarakat lokal akan timbul jika mereka dapat memperoleh manfaat ekonomi ('economical benefit') dari lingkungan yang lestari.
5. Kehadiran wisatawan (khususnya ekowisatawan) ke tempat-tempat yang masih alami itu memberikan peluas bagi penduduk setempat untuk mendapatkan penghasilan alternatif dengan menjadi pemandu wisata, porter, membuka homestay, pondok ekowisata (ecolodge), warung dan usaha-usaha lain yang berkaitan dengan ekowisata, sehingga dapat meningkatkan kesejahtraan mereka atau meningkatkan kualitas hidpu penduduk lokal, baik secara materiil, spirituil, kulturil maupun intelektual.
Sedangkan pengertian Ekowisata Berbasis Komunitas (community-based ecotourism) merupakan usaha ekowisata yang dimiliki, dikelola dan diawasi oleh masyarakat setempat. Masyarakat berperan aktif dalam kegiatan pengembangan ekowisata dari mulai perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan ekowisata sebanyak mungkin dinikmati oleh masyarakat setempat. Jadi dalam hal ini masyarakat memiliki wewenang yang memadai untuk mengendalikan kegiatan ekowisata.
http://www.ekowisata.info/definisi_ekowisata.html
Tarian senja di Pantai Pasir Padi

Sedih, merana, sepi, terbuang...
Foto ini saya ambil di sekitar Hutan Mangrove Pantai pasir Padi Pulau Bangka.
bentuk sebuah keprihatinan dari makin merananya Kerukan Alam yang terjadi di bumi ini, khususnya di Pulau Bangka, saya lahir dan di besarkan di Pulau ini saya masih ingat ketika kecil sering bermain di sungai-sungai kecil dan membuat petulangan kecil di hutan-hutan sekitarnya...kini saya sudah ga' bisa lagi bernostalgia dengan tempat bermain alam masa kecil saya.
terlalu banyak tangan-tangan pengeruk sumber daya alam yang meluluh lantakkan taman bermain saya..
sungai kecil diganti air keruh yang membuat orang makin tak acuh, hutan-hutan kini jadi lapangan terbuka perkebunan sawit dan penambangan timah yang makin marak...
berharap pada siap lagi... tak bisa lagi saya berbagi dan bercerita tentang indahnya Pulau kelahiran saya...
sama seperti tarian Senja Mangrove ini yang makin terkikis habis,,,
BUMIku....T_T...
Langganan:
Postingan (Atom)
